Harga Emas Hari Ini, 24 Oktober 2023, Berlindung di Aset Safe Haven
Harga emas global hari ini membidik resistance terdekat di area US$1.981,81 sebelum menargetkan resistance kuat di US$1.987,87 per troy ounce.
Kinesis Monetary International
Harga emas global hari ini membidik resistance terdekat di area US$1.981,81 sebelum menargetkan resistance kuat di US$1.987,87 per troy ounce.
Jakarta, CNBC Indonesia– Harga emas kembali melandai setelah imbal hasil US Treasury terbang. Aksi profit taking juga membuat emas menyusut. Harga emas di pasar spot pada perdagangan Senin (23/10/2023), ditutup di posisi US$ 1.972,59 per troy ons. Harganya jatuh 0,43%. Pelemahan ini memutus tren positif emas yang menguat dalam empat hari sebelumnya dengan penguatan mencapai 3,2%. Emas sedikit menguat pada hari ini. Pada perdagangan Selasa (24/10/2023) pukul 06:24 WIB, harga emas menguat 0,04%. Harga emas ambruk kemarin setelah imbal hasil US Treasury 10 tahun melesat ke 4,84%. Imbal hasil memang sedikit melandai dari sebelumnya yang menembus 4,92% tetapi masih berada di level tertingginya dalam 16 tahun terakhir.Indeks dolar juga masih melaju kencang ke 105,54. Posisi tersebut lebih tinggi dibandingkan pada penutupan hari sebelumnya yakni 106,16. Kenaikan dolar AS membuat emas semakin mahal dibeli sehingga semakin tidak terjangkau untuk dibeii buat investasi. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury membuat emas kurang menarik. “Market pada dasarnya butuh konsolidasi setelah rally panjang selama dua pekan. Ini adalah hal yang wajar. Pelaku pasar juga perlu melihat apa yang terjadi di pasar saat ini, termasuk imbal hasil,” tutur analis Saxo Bank, Ole Hansen, dikutip dari Reuters. Harga emas terbang 8,12% dari US$ 1.832,26 ke posisi US$ 1981, 005 pada akhir pekan lalu imbal hasil perang. Emas sebagai aset aman kembali dicari di tengah ketegangan geopolitik.David Meger, analis dari High Ridge Futures, menjelaskan status emas sebagai aset akan menjadi faktor penopang emas salaam perang memanas,“Ada ketegangan geopolitik dan ketidakpastian di Timur Tengah akan terus menopang emas ke depan,” tutur Meger. Analis OANDA, Craig Erlam, mengatakan pelemahan emas saat ini dipicu oleh aksi profit taking.“Ini tentu saja bukan sinyal yang negatif atau tanda bahaya ke emas. Lonjakan harga emas sudah terjadi beberapa minggu dan saat ini membuat pelaku pasar melalukan aksi profit taking,” ujar Erlam, kepada Reuters.
Harga emas hari ini, Rabu (18/10/2023) akan berfluktuasi namun berpeluang ditutup menguat di tengah penantian investor atas pidato ketua The Fed pekan ini.
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga emas tetap menguat di tengah gempuran tingginya imbal hasil US Treasury dan kenaikan dolar Amerika Serikat (AS). Konflik di Timur Tengah membuat emas tetap berlari meski ada banyak tekanan dari ekspektasi kenaikan suku bunga. Harga emas di pasar spot pada perdagangan Selasa (17/10/2023), ditutup di posisi US$ 1.923,07 per troy ons. Harganya menguat 0,19% Penguatan ini berbanding terbalik dengan pergerakan harga emas yang melemah 0,64% pada Senin pekan ini. Harga emas masih menguat tipis pada hari ini. Pada perdagangan Rabu (18/10/2023) pukul 06: 32 WIB, harga emas ada di posisi US$ 1.923,79 per troy ons. Harganya menanjak 0,04%. Analis dari FXTM, Lukman Otunuga, menjelaskan pergerakan emas masih ditopang oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan geopolitik bahkan mampu meredam sentimen negatif terkait suku bunga. Dalam perkembangan terbaru dari perang Israel vs Hamas, ratusan orang dilaporkan tewas dalam ledakan besar di sebuah rumah sakit yang ramai di Kota Gaza. Insiden itu merupakan kematian terbesar di wilayah yang diblokade tersebut dalam lima perang antara Hamas dan Israel sejak militan mengambil alih wilayah tersebut pada 2007. Kementerian Kesehatan Gaza, yang dijalankan oleh Hamas, mengatakan setidaknya 500 orang tewas pada Selasa (17/10/2023) malam dalam serangan udara Israel terhadap al-Ahlial-Arabi, yang juga dikenal sebagai rumah sakit Baptis. Juru bicara pertahanan sipil Gaza menyebutkan jumlah korban tewas sekitar 300 orang. Pertumpahan darah di rumah sakit tersebut terjadi 11 hari setelah perang baru antara Israel dan kelompok militan Palestina yang terus meningkat menjelang kunjungan Joe Biden ke wilayah tersebut, sehingga mempersulit upaya AS untuk menghentikan konflik yang meluas di Timur Tengah. “Pergerakan harga emas akan sangat dipengaruhi oleh risiko geopolitik serta ekspektasi suku bunga,” tutur Lukman Otunuga, dikutip dari Reuters. Pelaku pasar menunggu pidato Chairman bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) Jeromw Powell. Powell akan berbicara pada acara Economic Outlook di Economic Club of New York (ECNY) Luncheon, New York, New York pada Kamis (19/10/2023). Pidato Powell akan ditunggu-tunggu mengingat pelaku pasar ingin mencari tahu arah kebijakan The Fed ke depan setelah inflasi AS masih melaju kencang. Perangkat FedWatch Tool menunjukkan 11,5% pelaku pasar memperkirakan adanya kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada November mendatang. Angka ini naik dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai 6,8%. Ekspektasi membuat indeks dolar AS menguat ke 106,25 kemarin dari hari sebelumnya yang tercatat 196,24. Ekspektasi juga melambungkan imbal hasil US Treasury melonjak menjadi 4,85% dari posisi sebelumnya di 4,71%. “Jika Powell menyampaikan pernyataan hawkish maka ini akan menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga sehingga harga emas akan tertekan,” tutur Otunuga. Dia menambahkan jika emas ke bawah level US$ 1.920 maka sang logam mulai bisa terus terseret ke bawah.
Jakarta, CNBC Indonesia– Harga emas menguat pada pagi hari ini. Pergerakan harga emas diperkirakan tidak akan terlalu volatile pada pekan ini karena tidak ada data genting yang akan dirilis pada pekan ini. Harga emas pada perdagangan awal pekan ini, Senin (16/10/2023), pukul 05:30 menguat 0,07% di posisi US$ 1.933,11 per troy ons.Kenaikan tersebut memperpanjang tren positif emas setelah harganya terbang pada pekan lalu. Harga emas di pasar spot pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (13/10/2023), ditutup di posisi US$ 1.931,70 per troy ons. Harganya terbang 3,37%. Analis OANDA, Edward Moya, menjelaskan pergerakan harga emas masih akan sangat dipengaruhi perkembangan perang Isarel vs Hamas serta di Amerika Serikat (AS).Emas melesat pekan lalu setelah situasi di Timur Tengah memanas. Emas adalah aset aman yang dicari saat kondisi ekonomi memburuk atau terjadi ketegangan geopolitik. Moya bahkan memperkirakan harga emas bisa terbang ke level US$ 2.000 jika perang memanas dan meluas.“Investor ramai-ramai beralih ke aset aman setelah ketegangan di Faza. Ini Jika situasi semakin memburuk maka ada peluang emas akan terbang ke level US$ 2.000 tahun ini. Emas memang masih akan bergerak di level US$ 1.800-1.900 per troy ons tetapi ada kemungkinan melenceng hingga US$ 2.000,” tutur Moya, dikutip dari Reuters. Selain perang, salah satu faktor pendukung lainnya adalah minimnya data-data penting yang dirilis AS pada pekan ini. Namun, sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS) akan menyampaikan pidato dalam beberapa forum, termasuk Chairman The Fed Jerome Powell. Powell dijadwalkan akan berpidato dalam acara Economic Outlook yang digelar oleh the Economic Club of New York (ECNY) Luncheon, New York, pada Kamis pekan ini (19/10/2023).Pidato Powell akan menjadi pegangan pelaku pasar untuk memproyeksi arah kebijakan The Fed pada November. Perangkat FedWatch Tool menunjukkan 10,6% pelaku pasar memperkirakan adanya kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada November mendatang. Angka ini naik dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai 8,1%. Penopang harga emas lainnya adalah melandainya kekuatan dolar AS dan imbal hasil US Treasury.Indeks dolar ada di posisi 106,59 pada pagi hari ini, turun dibandingkan pada akhir pekan lalu (106,65). Sementara itu, imbal hasil US Treasury melandai ke 4,63% pada pagi hari ini, dari 4,7% pada pekan lalu. Melandainya dolar AS akan membuat emas lebih terjangkau untuk dibeli sehingga semakin menarik. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga melandainya imbal hasil membuat emas semakin menarik. Emas Terbang Pekan lalu Posisi penutupan US$ 1931,70 pada Jumat pekan lalu adalah yang tertinggi sejak 6 Oktober 2023 atau lima hari perdagangan terakhir. Lonjakan harga emas kemarin membuat sang logam mulia langsung mencetak dua rekor sekaligus.Pertama, kenaikan terbesar dalam sehari. Harga emas yang melonjak 3,37% sehari merupakan yang terbesar sejak 17 Maret 2023 atau hampir tujuh bulan terakhir.Pada periode tersebut harga emas terbang 3,58% sehari. Emas melesat setelah AS tengan diguncang oleh krisis perbankan setelah tiga bank AS ditutup yakni Silicon Valley Bank (SVB), Silvergate Bank, dan Signature Bank. Krisis menjalar ke Eropa dengan ambruknya kinerja Credit Suisse. Rekor kedua yang dicatat emas pada perdagangan Jumat kemarin adalah kenaikan tertinggi dalam sepekan.Emas melesat 5,43% dalam sepekan pada pekan lalu. Kenaikan tersebut merupakan yang tertinggi sejak pertengahan Maret (13-17 Maret 2023) di mana harga emas terbang 6,43% sepekan. Prestasi emas pada pekan lalu terbilang sangat luar biasa mengingat emas terpuruk pada awal Oktober tahun ini. Kenaikan emas di atas 3% dalam sehari juga jarang sekali terjadi.Kenaikan di atas 3% sehari hanya pernah terjadi enam kali dalam kurun waktu lima tahun terakhir, yakni pada 3, 23, dan 24 Maret 2020, 4 November 2022, 17 Maret 2023, dan kemarin yakni 13 Oktober 2023.
Harga emas global pekan depan diprediksi akan mengalami kenaikan pada seiring dengan perang Israel-Hamas.
Jakarta, CNBC Indonesia – Pembelian emas terus dilakukan oleh bank sentral dunia. Singapura menjadi salah satu bank sentral dengan pembelian terbesar tahun ini. Data World Gold Council (WGC) menunjukkan pembelian emas oleh bank sentral dunia pada Agustus 2023 mencapai 77 ton. Bank sentral China (PBoC) masih menjadi pembeli terbesar dengan memborong emas sebanyak 28,9 ton pada Agustus 2023.Pemborong berikutnya adalah bank sentral Polandia (14,9 ton), Turki (14,7 ton), dan Uzbekistan (8,7 ton). PBoC mulai rajin memborong emas sejak November 2022, Pembelian emas oleh PBoC pada bulan tersebut adalah yang pertama kali sejak September 2019 atau lebih dari tiga tahun sebelumnya. China kemudian terus menumpuk cadangan emasnya dan menjadi pemborong terbesar tahun ini. Pada Januari-Agustus 2023, PBoC sudah memborong emas sebanyak 154,9 ton, Jumlah tersebut setara dengan 40,3% dari total pembelian emas global pada periode tersebut. Aksi borong China ini bertepatan dengan pembukaan perbatasan internasional mereka serta lesunya ekonomi Sang Naga serta upaya mereka mengurangi cadev dalam bentuk dolar Amerika Serikat. Di bawah China, terdapat Polandia yang memborong emas sebanyak 85,7 ton pada Januari-Agustus tahun ini. Tetangga RI, Singapura, ada di urutan ketiga dengan pembelian emas sebanyak 75,2 ton.Bank sentral Singapura aktif membeli emas sejak Januari 2023 dengan pembelian mencapai 44,6 ton. Pembelian tersebut adalah yang pertama sejak Juli 2021 atau sekitar 2,5 tahun.Pembelian terbesar kedua tercatat pada Maret yakni 17,3 ton dan pada Februari sebesar 6,6 ton. Pembelian emas pada Januari tahun ini juga menimbulkan banyak pertanyaan mengingat Singapura jarang memborong emas dalam jumlah besar.Pembelian pada Januari 2023 menjadi yang terbesar kedua dalam sejarah Singapura. Pembelian terbesar tercatat pada 1968 yakni 100 ton. Dalam periode 21 tahun atau 2002-2023, bank sentral Singapura hanya melakukan pembelian emas dua kali yakni pada 2021 dan tahun ini.Penambahan sebanyak 75,2 ton pada tahun ini menambah total cadangan emas Singapura menjadi 227,3 ton per Agustus 2023. Singapura ada di peringkat 26 dalam negara/lembaga pemilik cadangan emas terbesar di dunia. Indonesia sendiri ada di urutan 45 dengan total cadangan emas mencapai 78,6 ton. Bank Indonesia terakhir kali melakukan pembelian pada 2017 dengan jumlah 2,5 ton.
Jakarta, CNBC Indonesia– Harga emas langsung melambung seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah perang Israel vs Hamas meledak, akhir pekan lalu. Namun, lonjakan harga emas pada pekan ini bisa terhenti jika inflasi Amerika Serikat (AS) masih tinggi. Harga emas di pasar spot pada perdagangan awal pekan ini, Senin (9/10/2023), pukul 06:17 WIB, ada di posisi US$ 1.847,98. Harganya melambung 0,9% per troy ons. Harga tersebut adalah yang tertinggi sejak 29 September 2023 atau lima hari terakhir. Kenaikan harga emas hari ini juga melanjutkan tren positifnya di mana harga emas juga melambung 0,67% pada akhir pekan lalu. Dengan demikian, harga emas sudah melambung 1,54% dalam dua hari terakhir. Lonjakan harga emas dipicu oleh meletusnya perang Hamas vs Israel serta aksi bargain buying. Emas adalah aset aman yang akan dicari orang saat terjadi ketidakpastian global dan meningkatnya ketegangan geopolitik seperti perang. Dunia dikejutkan oleh perang yang meletus antara Palestina dan Hamas pekan lalu. Eskalasi konflik antara Kelompok Militan Islam Palestina yakni Hamas dengan Israel kian meningkat di Jalur Gaza. Serangan balasan dari kedua kubu itu terus berjalan sampai pada Minggu (8/10/2023) pasca pertama kali Hamas melakukan serangannya kepada Israel, Sabtu (7/10/2023). Tak sendirian, bahkan Kelompok Militan Hamas Palestina itu mendapatkan dukungan dari Kelompok Militan Hizbullah Lebanon. Di hari Minggu ini, Hizbullah juga melakukan bombardir ke wilayah Israel dengan roket dan peluru kendalinya. Mengutip Aljazeera,serangkaian serangan yang dilakukan oleh Hamas dan Hizbullah itu menelan ratusan korban. Diklaim korban jiwa dari warga Israel mencapai 600-an orang. Sementara itu, mengutip AFP seperti yang dijelaskan oleh Kementerian Kesehatan wilayah setempat, jumlah korban jiwa dari warga Palestina diklaim mencapai 313 orang sampai pada Minggu siang (8/10/2023). Adapun sebanyak 1.990 orang lainnya mengalami luka-luka. Hal itu terjadi karena serangan udara Israel terhadap target-target Hamas dalam dua hari berturut-turut. MengutipReuters,Militer Israel menyatakan bahwa pihaknya sudah mendapatkan kembali kendali atas titik-titik wilayah yang disusupi oleh Hamas Palestina. Namun, sampai saat ini pihaknya masih terus melakukan pertempuran. Data menunjukkan harga emas memang akan selalu melambung setiap kali terjadi perang atau ketegangan politiik. Pada tahun lalu, harga emas melambung hingga ke level US$ 2.000 setelah perang Rusia-Ukraina meledak. Analis Ole Hansen menjelaskan kenaikan harga emas juga ditopang oleh aksi bargain buying. Menurutnya, pasar sudah jenuh setelah harga emas turun selama sembilan hari beruntun pada 22 September -5 Oktober 2023. “Emas mungkin akan bullish sedikit karena pasar sudah jenuh. Namun, pergerakan emas ke depan masih akan sangat dipengaruhi kebijakan suku bunga,” tutur Hansen, dikutip dari Reuters. Pasar menunggu data penting pada pekan ini yakni inflasi AS untuk September2023 yang akan diumumkan pada Rabu (11/10/2023). Data ini akan menjadi pegangan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan kebijakan. Inflasi AS ada di angka 3,7% (year on year/yoy) pada Agustus 2023. Jika inflasi AS masih tinggi maka harapan pasar melihat The Fed melunak semakin menipis.
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga emas semakin memprihatinkan. Sang logam mulia bahkan kini terancam terjun ke level US$ 1,700 per troy ons. Harga emas di pasar spot pada perdagangan Selasa (3/10/2023), ditutup di posisi US$ 1.822,82 per troy ons. Harganya melandai 0,25%.Harga tersebut juga menjadi yang terendah sejak 8 Maret 2023 atau hampir tujuh bulan terakhir.Ambruknya harga emas juga semakin melengkapi derita sang logam mulia yang jatuh sejak Senin pekan lalu. Dalam tujuh hari perdagangan terakhir, harga emas ambles 5,31%. Harga emas Pada perdagangan hari ini, Rabu (4/10/2023) pada pukul 05:55 WIB, ada di posisi US$ 1822,19 per troy ons. Harganya melandai 0,03%. Harga emas ambruk setelah data menunjukkan pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) masih panas. Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS)mencapai 9,6 juta pada Agustus 2023,Jumlah tersebut jauh di atas ekspektasi pasar yakni 8,8 juta ataupun pada Juli yang tercatat 8,9 juta. Kondisi ini mencerminkan jika pasar tenaga kerja AS masih panas. AS, sebelumnya, juga melaporkan jika aktivitas manufaktur mereka justru membaik meskipun masih belum ekspansif.Data ISM Manufacturing PMI menunjukkan indeks ada di angka 49 pada September 2023, lebih tinggi dibandingkan pada Agustus yang tercatat 47,6 dan konsensus pasar yakni 47,8.Data ISM Manufacturing dari S&P Global juga menunjukkan indeks ada di angka 49,8 pada September, lebih tinggi dibandingkan pada Agustus yakni 47,9. PMI Manufacturing memang belum masuk dalam tahap ekspansif tetapi angkanya terus meningkat karena permintaan yang masih kencang. Kondisi ini menunjukkan jika ekonomi AS masih kuat sehingga kemungkinan inflasi akan sulit melandai. Dua data ini semakin meningkatkan ekspektasi pasar jika bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan ketatnya. Perangkat FedWatch Tool menunjukkan sekitar 30,8% pelaku pasar memperkirakan adanya kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada November mendatang. Angka ini lebih besar dibandingkan pekan lalu yang hanya 14%. Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury melonjak. Indeks dolar masih bergerak di kisaran 107,08 yang merupakan level tertingginya sejak November 2022 atau 10 bulan terakhir. Imbal hasil pada US Treasury yang melesat ke kisaran 4,8% pada perdagangan kemarin. Posisi tersebut adalah yang tertinggi sejak Juli 2007 atau tetinggi dalam 16 tahun terakhir. Penguatan dolar AS membuat emas semakin mahal dibeli sehingga tidak menarik buat investasi. Logam mulia juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga tidak menarik saat imbal hasil US Treasury naik. “Data JOLTS benar-benar membuat pelaku pasar terkejut karena bisa meningkatkan potensi kenaikan suku bunga,” tutur analis OANDA, Edward Moya, dikutip dari Reuters. Moya menambahkan ada peluang bagi emas untuk menguat yakni jika bank sentral Jepang melakukan intervensi besar-besaran atau mengubah kebijakan moneternya. Seperti diketahui, yen anjlok lebih dari 4% dalam setahun terakhir yang membuat banyak pihak meminta bank sentral Jepang untuk melakukan intervensi. “Jika bank sentral Jepang (BOJ) melakukan intervensi maka dalam jangka pendek itu akan menekan dolar sehingga emas bisa menguat,” imbuhnya. Analis Julius Baer, Carsten Menke, memperkirakan sangat sulit menguat ke depan. Emas bahkan bisa terancam ke level US4 1.7235 per troy ons dalam 12 bulan ke depan. “Kami masih pada pendirian jika proyekso 12 bulan kami, emas aka nada di posisi US$ 1.725 per troy ons. Banyak yang perlu diwaspadai dari harga emas,” ujarnya, kepada Reuters. Senada, analis dari Capital.com, Kyle Rodda, menjelaskan ada sinyal emas terseret ke bawah US$ 1.800.“Trader emas saat ini sudah melihat ada kemungkinan emas ke bawah US$ 1.800. Namun, kemungkinan ada dorongan membeli jika emas sudah jauh melemah,” tuturnya.
Isu politik di Amerika Serikat bisa mendorong harga emas rebound, apalagi melihat posisinya di level terendah tujuh bulan.