Kinesis Monetary International

harga emas

News Update

Kepada Pemilik Emas: Jangan Kaget Kalau Harga Tembus US$2.000

Jakarta, CNBC Indonesia– Harga emas menguat pada pagi hari ini. Pergerakan harga emas diperkirakan tidak akan terlalu volatile pada pekan ini karena tidak ada data genting yang akan dirilis pada pekan ini. Harga emas pada perdagangan awal pekan ini, Senin (16/10/2023), pukul 05:30 menguat 0,07% di posisi US$ 1.933,11 per troy ons.Kenaikan tersebut memperpanjang tren positif emas setelah harganya terbang pada pekan lalu. Harga emas di pasar spot pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (13/10/2023), ditutup di posisi US$ 1.931,70 per troy ons. Harganya terbang 3,37%. Analis OANDA, Edward Moya, menjelaskan pergerakan harga emas masih akan sangat dipengaruhi perkembangan perang Isarel vs Hamas serta di Amerika Serikat (AS).Emas melesat pekan lalu setelah situasi di Timur Tengah memanas. Emas adalah aset aman yang dicari saat kondisi ekonomi memburuk atau terjadi ketegangan geopolitik. Moya bahkan memperkirakan harga emas bisa terbang ke level US$ 2.000 jika perang memanas dan meluas.“Investor ramai-ramai beralih ke aset aman setelah ketegangan di Faza. Ini Jika situasi semakin memburuk maka ada peluang emas akan terbang ke level US$ 2.000 tahun ini. Emas memang masih akan bergerak di level US$ 1.800-1.900 per troy ons tetapi ada kemungkinan melenceng hingga US$ 2.000,” tutur Moya, dikutip dari Reuters. Selain perang, salah satu faktor pendukung lainnya adalah minimnya data-data penting yang dirilis AS pada pekan ini. Namun, sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS) akan menyampaikan pidato dalam beberapa forum, termasuk Chairman The Fed Jerome Powell. Powell dijadwalkan akan berpidato dalam acara Economic Outlook yang digelar oleh the Economic Club of New York (ECNY) Luncheon, New York, pada Kamis pekan ini (19/10/2023).Pidato Powell akan menjadi pegangan pelaku pasar untuk memproyeksi arah kebijakan The Fed pada November. Perangkat FedWatch Tool menunjukkan 10,6% pelaku pasar memperkirakan adanya kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada November mendatang. Angka ini naik dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai 8,1%. Penopang harga emas lainnya adalah melandainya kekuatan dolar AS dan imbal hasil US Treasury.Indeks dolar ada di posisi 106,59 pada pagi hari ini, turun dibandingkan pada akhir pekan lalu (106,65). Sementara itu, imbal hasil US Treasury melandai ke 4,63% pada pagi hari ini, dari 4,7% pada pekan lalu. Melandainya dolar AS akan membuat emas lebih terjangkau untuk dibeli sehingga semakin menarik. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga melandainya imbal hasil membuat emas semakin menarik. Emas Terbang Pekan lalu Posisi penutupan US$ 1931,70 pada Jumat pekan lalu adalah yang tertinggi sejak 6 Oktober 2023 atau lima hari perdagangan terakhir. Lonjakan harga emas kemarin membuat sang logam mulia langsung mencetak dua rekor sekaligus.Pertama, kenaikan terbesar dalam sehari. Harga emas yang melonjak 3,37% sehari merupakan yang terbesar sejak 17 Maret 2023 atau hampir tujuh bulan terakhir.Pada periode tersebut harga emas terbang 3,58% sehari. Emas melesat setelah AS tengan diguncang oleh krisis perbankan setelah tiga bank AS ditutup yakni Silicon Valley Bank (SVB), Silvergate Bank, dan Signature Bank. Krisis menjalar ke Eropa dengan ambruknya kinerja Credit Suisse. Rekor kedua yang dicatat emas pada perdagangan Jumat kemarin adalah kenaikan tertinggi dalam sepekan.Emas melesat 5,43% dalam sepekan pada pekan lalu. Kenaikan tersebut merupakan yang tertinggi sejak pertengahan Maret (13-17 Maret 2023) di mana harga emas terbang 6,43% sepekan. Prestasi emas pada pekan lalu terbilang sangat luar biasa mengingat emas terpuruk pada awal Oktober tahun ini. Kenaikan emas di atas 3% dalam sehari juga jarang sekali terjadi.Kenaikan di atas 3% sehari hanya pernah terjadi enam kali dalam kurun waktu lima tahun terakhir, yakni pada 3, 23, dan 24 Maret 2020, 4 November 2022, 17 Maret 2023, dan kemarin yakni 13 Oktober 2023.

News Update

Saingi China, Diam-Diam Tetangga RI ini Borong Emas 75 Ton

Jakarta, CNBC Indonesia – Pembelian emas terus dilakukan oleh bank sentral dunia. Singapura menjadi salah satu bank sentral dengan pembelian terbesar tahun ini. Data World Gold Council (WGC) menunjukkan pembelian emas oleh bank sentral dunia pada Agustus 2023 mencapai 77 ton. Bank sentral China (PBoC) masih menjadi pembeli terbesar dengan memborong emas sebanyak 28,9 ton pada Agustus 2023.Pemborong berikutnya adalah bank sentral Polandia (14,9 ton), Turki (14,7 ton), dan Uzbekistan (8,7 ton). PBoC mulai rajin memborong emas sejak November 2022, Pembelian emas oleh PBoC pada bulan tersebut adalah yang pertama kali sejak September 2019 atau lebih dari tiga tahun sebelumnya. China kemudian terus menumpuk cadangan emasnya dan menjadi pemborong terbesar tahun ini. Pada Januari-Agustus 2023, PBoC sudah memborong emas sebanyak 154,9 ton, Jumlah tersebut setara dengan 40,3% dari total pembelian emas global pada periode tersebut. Aksi borong China ini bertepatan dengan pembukaan perbatasan internasional mereka serta lesunya ekonomi Sang Naga serta upaya mereka mengurangi cadev dalam bentuk dolar Amerika Serikat. Di bawah China, terdapat Polandia yang memborong emas sebanyak 85,7 ton pada Januari-Agustus tahun ini. Tetangga RI, Singapura, ada di urutan ketiga dengan pembelian emas sebanyak 75,2 ton.Bank sentral Singapura aktif membeli emas sejak Januari 2023 dengan pembelian mencapai 44,6 ton. Pembelian tersebut adalah yang pertama sejak Juli 2021 atau sekitar 2,5 tahun.Pembelian terbesar kedua tercatat pada Maret yakni 17,3 ton dan pada Februari sebesar 6,6 ton. Pembelian emas pada Januari tahun ini juga menimbulkan banyak pertanyaan mengingat Singapura jarang memborong emas dalam jumlah besar.Pembelian pada Januari 2023 menjadi yang terbesar kedua dalam sejarah Singapura. Pembelian terbesar tercatat pada 1968 yakni 100 ton. Dalam periode 21 tahun atau 2002-2023, bank sentral Singapura hanya melakukan pembelian emas dua kali yakni pada 2021 dan tahun ini.Penambahan sebanyak 75,2 ton pada tahun ini menambah total cadangan emas Singapura menjadi 227,3 ton per Agustus 2023. Singapura ada di peringkat 26 dalam negara/lembaga pemilik cadangan emas terbesar di dunia. Indonesia sendiri ada di urutan 45 dengan total cadangan emas mencapai 78,6 ton. Bank Indonesia terakhir kali melakukan pembelian pada 2017 dengan jumlah 2,5 ton.

News Update

Tuah Emas Kembali Bekerja: Harganya Terbang Karena Perang

Jakarta, CNBC Indonesia– Harga emas langsung melambung seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah perang Israel vs Hamas meledak, akhir pekan lalu. Namun, lonjakan harga emas pada pekan ini bisa terhenti jika inflasi Amerika Serikat (AS) masih tinggi. Harga emas di pasar spot pada perdagangan awal pekan ini, Senin (9/10/2023), pukul 06:17 WIB, ada di posisi US$ 1.847,98. Harganya melambung 0,9% per troy ons. Harga tersebut adalah yang tertinggi sejak 29 September 2023 atau lima hari terakhir. Kenaikan harga emas hari ini juga melanjutkan tren positifnya di mana harga emas juga melambung 0,67% pada akhir pekan lalu. Dengan demikian, harga emas sudah melambung 1,54% dalam dua hari terakhir. Lonjakan harga emas dipicu oleh meletusnya perang Hamas vs Israel serta aksi bargain buying. Emas adalah aset aman yang akan dicari orang saat terjadi ketidakpastian global dan meningkatnya ketegangan geopolitik seperti perang. Dunia dikejutkan oleh perang yang meletus antara Palestina dan Hamas pekan lalu. Eskalasi konflik antara Kelompok Militan Islam Palestina yakni Hamas dengan Israel kian meningkat di Jalur Gaza. Serangan balasan dari kedua kubu itu terus berjalan sampai pada Minggu (8/10/2023) pasca pertama kali Hamas melakukan serangannya kepada Israel, Sabtu (7/10/2023). Tak sendirian, bahkan Kelompok Militan Hamas Palestina itu mendapatkan dukungan dari Kelompok Militan Hizbullah Lebanon. Di hari Minggu ini, Hizbullah juga melakukan bombardir ke wilayah Israel dengan roket dan peluru kendalinya. Mengutip Aljazeera,serangkaian serangan yang dilakukan oleh Hamas dan Hizbullah itu menelan ratusan korban. Diklaim korban jiwa dari warga Israel mencapai 600-an orang. Sementara itu, mengutip AFP seperti yang dijelaskan oleh Kementerian Kesehatan wilayah setempat, jumlah korban jiwa dari warga Palestina diklaim mencapai 313 orang sampai pada Minggu siang (8/10/2023). Adapun sebanyak 1.990 orang lainnya mengalami luka-luka. Hal itu terjadi karena serangan udara Israel terhadap target-target Hamas dalam dua hari berturut-turut. MengutipReuters,Militer Israel menyatakan bahwa pihaknya sudah mendapatkan kembali kendali atas titik-titik wilayah yang disusupi oleh Hamas Palestina. Namun, sampai saat ini pihaknya masih terus melakukan pertempuran. Data menunjukkan harga emas memang akan selalu melambung setiap kali terjadi perang atau ketegangan politiik. Pada tahun lalu, harga emas melambung hingga ke level US$ 2.000 setelah perang Rusia-Ukraina meledak. Analis Ole Hansen menjelaskan kenaikan harga emas juga ditopang oleh aksi bargain buying. Menurutnya, pasar sudah jenuh setelah harga emas turun selama sembilan hari beruntun pada 22 September -5 Oktober 2023. “Emas mungkin akan bullish sedikit karena pasar sudah jenuh. Namun, pergerakan emas ke depan masih akan sangat dipengaruhi kebijakan suku bunga,” tutur Hansen, dikutip dari Reuters. Pasar menunggu data penting pada pekan ini yakni inflasi AS untuk September2023 yang akan diumumkan pada Rabu (11/10/2023). Data ini akan menjadi pegangan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan kebijakan. Inflasi AS ada di angka 3,7% (year on year/yoy) pada Agustus 2023. Jika inflasi AS masih tinggi maka harapan pasar melihat The Fed melunak semakin menipis.

News Update

Pemilik Emas Mesti Waspada: Harganya Bentar Lagi ke US$ 1700

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga emas semakin memprihatinkan. Sang logam mulia bahkan kini terancam terjun ke level US$ 1,700 per troy ons.  Harga emas di pasar spot pada perdagangan Selasa (3/10/2023), ditutup di posisi US$ 1.822,82 per troy ons. Harganya melandai 0,25%.Harga tersebut juga menjadi yang terendah sejak 8 Maret 2023 atau hampir tujuh bulan terakhir.Ambruknya harga emas juga semakin melengkapi derita sang logam mulia yang jatuh sejak Senin pekan lalu. Dalam tujuh hari perdagangan terakhir, harga emas ambles 5,31%. Harga emas Pada perdagangan hari ini, Rabu (4/10/2023) pada pukul 05:55 WIB, ada di posisi US$ 1822,19 per troy ons. Harganya melandai 0,03%. Harga emas ambruk setelah data menunjukkan pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) masih panas. Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS)mencapai 9,6 juta pada Agustus 2023,Jumlah tersebut jauh di atas ekspektasi pasar yakni 8,8 juta ataupun pada Juli yang tercatat 8,9 juta. Kondisi ini mencerminkan jika pasar tenaga kerja AS masih panas. AS, sebelumnya, juga melaporkan jika aktivitas manufaktur mereka justru membaik meskipun masih belum ekspansif.Data ISM Manufacturing PMI menunjukkan indeks ada di angka 49 pada September 2023, lebih tinggi dibandingkan pada Agustus yang tercatat 47,6 dan konsensus pasar yakni 47,8.Data ISM Manufacturing dari S&P Global juga menunjukkan indeks ada di angka 49,8 pada September, lebih tinggi dibandingkan pada Agustus yakni 47,9. PMI Manufacturing memang belum masuk dalam tahap ekspansif tetapi angkanya terus meningkat karena permintaan yang masih kencang. Kondisi ini menunjukkan jika ekonomi AS masih kuat sehingga kemungkinan inflasi akan sulit melandai. Dua data ini semakin meningkatkan ekspektasi pasar jika bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan ketatnya. Perangkat FedWatch Tool menunjukkan sekitar 30,8% pelaku pasar memperkirakan adanya kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada November mendatang. Angka ini lebih besar dibandingkan pekan lalu yang hanya 14%. Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury melonjak. Indeks dolar masih bergerak di kisaran 107,08 yang merupakan level tertingginya sejak November 2022 atau 10 bulan terakhir. Imbal hasil pada US Treasury yang melesat ke kisaran 4,8% pada perdagangan kemarin. Posisi tersebut adalah yang tertinggi sejak Juli 2007 atau tetinggi dalam 16 tahun terakhir. Penguatan dolar AS membuat emas semakin mahal dibeli sehingga tidak menarik buat investasi. Logam mulia juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga tidak menarik saat imbal hasil US Treasury naik. “Data JOLTS benar-benar membuat pelaku pasar terkejut karena bisa meningkatkan potensi kenaikan suku bunga,” tutur analis OANDA, Edward Moya, dikutip dari Reuters. Moya menambahkan ada peluang bagi emas untuk menguat yakni jika bank sentral Jepang melakukan intervensi besar-besaran atau mengubah kebijakan moneternya. Seperti diketahui, yen anjlok lebih dari 4% dalam setahun terakhir yang membuat banyak pihak meminta bank sentral Jepang untuk melakukan intervensi. “Jika bank sentral Jepang (BOJ) melakukan intervensi maka dalam jangka pendek itu akan menekan dolar sehingga emas bisa menguat,” imbuhnya. Analis Julius Baer, Carsten Menke, memperkirakan sangat sulit menguat ke depan. Emas bahkan bisa terancam ke level US4 1.7235 per troy ons dalam 12 bulan ke depan. “Kami masih pada pendirian jika proyekso 12 bulan kami, emas aka nada di posisi US$ 1.725 per troy ons. Banyak yang perlu diwaspadai dari harga emas,” ujarnya, kepada Reuters. Senada, analis dari Capital.com, Kyle Rodda, menjelaskan ada sinyal emas terseret ke bawah US$ 1.800.“Trader emas saat ini sudah melihat ada kemungkinan emas ke bawah US$ 1.800. Namun, kemungkinan ada dorongan membeli jika emas sudah jauh melemah,” tuturnya.

News Update

Pemilik Emas Happy, Harganya Merangkak Naik Terus Nih

Jakarta, CNBC Indonesia – Sepanjang pekan ini harga emas dunia terpantau bergerak dalam zona positif walau di tengah ketidakpastian eksternal yang terus meningkat akibat sikap bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) yang mengisyaratkan hawkish. Melansir dari Refinitiv, harga emas di pasar spot pada perdagangan Jumat (22/9/2023), ditutup di posisi US$ 1.924,98 per troy ons. Harga emas menguat tipis 0,07% setiap mingguan. Harga emas dunia melanjutkan penguatan dari pekan sebelumnya sebesar 0,30%. Penguatan emas yang tipis disinyalir berkat hasil kebijakan suku bunga the Fed yang ditahan di level 5,25% – 5,50% sudah sesuai dengan ekspektasi pasar. Kendati demikian, isyarat the Fed hawkish di pertemuan selanjutnya dengan menaikkan suku bunga lagi masih terbuka lebar. Hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) mengindikasikan jika kebijakan moneter yang ketat akan tetap berlanjut hingga 2024 dan akan memangkas suku bunga lebih sedikit dari indikasi sebelumnya. Dokumen dot plot The Fed menunjukkan suku bunga akan ada di kisaran 5,5-5,75% pada tahun ini. Artinya, ada indikasi jika The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps lagi hingga akhir tahun. Proyeksi The Fed menunjukkan suku bunga (The Fed Fund rate/FFR) akan akan mencapai puncaknya di angka 5,6% pada tahun ini. Suku bunga akan turun menjadi 5,1% hingga 2024 dan 3,9% hingga 2025. Suku bunga sekitar 5,1% pada 2024 lebih tinggi dibandingkan pada proyeksi Juni yakni 4,6%. Menilai dari keputusan the Fed yang potensi masih hawkish walau sudah menahan suku bunga pada pertemuan pekan ini menunjukkan penguatan harga emas masih bisa tertahan. Pasalnya, kebijakan the Fed akan mempengaruhi dolar AS, apabila dolar AS kembali perkasa akibat suku bunga yang naik lagi, harga emas biasanya tak akan kuat melaju karena tingginya dolar membuat emas seakan terlalu mahal, sehingga pelaku pasar akan cenderung menahan diri untuk beli.

News Update

Pemilik Emas Boleh Slow Asalkan 2 Hal Ini Tak Bergerak Liar

Jakarta, CNBC Indonesia– Pergerakan harga emas pekan ini diperkirakan akan sedikit stagnan setelah emas menjalani pekan roller coaster pada minggu lalu. Harga emas di pasar spot pada perdagangan hari ini, Senin (25/9/2023), ada di posisi US$ 1.924,62 per troy ons. Harganya melemah 0,019% Pelemahan ini berbanding terbalik dengan penguatan sebesar 0,28% pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (22/9/2023). Secara keseluruhan, harga emas menguat 0,07% pada pekan lalu. Artinya, harga emas mampu menguat salaam dua pekan beruntun karena pekan sebelumnya juga naik 30%. Emas menjalani pekan penuh guncangan pekan lalu karena pelaku pasar menunggu pengumuman kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).Emas sempat menguat di awal pekan tetapi kemudian ambruk beruntun pada Selasa-Kamis sebelum menguat pada Jumat. Pekan ini, emas diperkirakan akan menghadapi pekan yang relatif tenang. Pasalnya, tidak ada data ekonomi besar yang akan rilis pada minggu ini. Data ekonomi AS yang akan rilis di antaranya klaim pengangguran, data penjualan rumah baru, indeks harga rumah,indeks manufaktur dan jasa versi Richmond Fed dan ada pula rilis data Harga Rumah S&P/Case-Shiller AS. Data ini menarik dicermati sebab akan memberikan gambaran bagaimana inflasi dan suku bunga menghantam ekonomi AS. Pergerakan emas pekan ini diperkirakan akan relatif tenang. Namun, kondisi berbeda akan terjadi jika ada pergerakan yang liar pada dolar AS dan imbal hasil US Treasury. Indeks dolar terbang ke 105,58 pada pekan lalu, rekor tertingginya sejak awal Maret 2023. Sementara itu, imbal hasil US Treasury melonjak ke 4,44% pada pekan lalu yang menjadi rekor tertinggi sejak September 2007 atau lebih dari 15 tahun. Penguatan dolar AS membuat emas semakin mahal dibeli sehingga tidak menarik buat investasi. Logam mulia juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga tidak menarik saat imbal hasil US Treasury naik. “Kekhawatiran saat ini adalah suku bunga tinggi The Fed dalam waktu lama akan membuat dolar makin kuat dan imbal hasil makin meningkat. Kondisi ini tentu saja membuat emas sangat berat,” tutur analis dari High Ridge Futures, David Meger, dikutip dari Reuters. Seperti diketahui, pekan lalu, The Fed memutuskan menahan suku bunga acuan di level 5,25-5,50% sesuai ekspektasi pasar. Namun, The Fed mengisyaratkan mereka akan tetap hawkish dan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga ke depan. Hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) juga mengindikasikan jika kebijakan moneter yang ketat akan tetap berlanjut hingga 2024. Keputusan The Fed mengecewakan pasar yang sudah berekspektasi jika The Fed akan memangkas suku bunga secara signifikan pada tahun depan.Ekspektasi pasar sepertinya sulit tercapai melihat banyaknya pejabat The Fed yang ingin mempertahankan kebijakan ketat. Sebanyak 10 dari 19 pejabat The Fed memperkirakan kebijakan suku bunga masih di atas 5% hingga tahun depan.

0
    0
    Your Cart
    Your cart is empty
    Scroll to Top